Pengantar Problem Solving

Kaki berpijak di Bumi, Matematika berpijak dimana?

Pertanyaan yang dilanjutkan banyak pertanyaan yang semakin membingungkan. Lalu apa jawabannya?

Matematika itu tidak nyata, hanya ada di pikiran manusia. Matematika berdiri di atas aksioma-aksioma(definisi, teorema, dan dalil-dalil). Isinya hanyalah kesepakatan dan kepercayaan belaka. Seorang Matematikawan mengibaratkan Matematika seperti rukun iman. Rukun iman  dalam agama yang menggambarkan kepercayaan kepada tuhan, malaikat, surga maupun neraka. tentang ajaran konsep neraka, bahwa neraka itu panas. Bisa jadi karena pemahaman semacam ini, neraka bisa digambarkan sebagai lautan es yang memiliki suhu -100 Centigrade( Yusuf Hartanto).

Lalu apa itu Matematika?

Pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan sebagai ilmu dan pengetahuan sebagai bukan ilmu. Syarat pengetahuan sebagai ilmu adalah memenuhi syarat deduktif dan induktif(empiris). Matematika tidak memiliki sifat induktif tersebut sehingga matematika bukanlah suatu ilmu.

Matematika adalah sejenis pengetahuan yang berguna sebagai alat komunikasi ilmu pengetahuan. Ia lah yang mengkomunikasikan ilmu pengetahuan sehingga bisa berkembang dan dipahami banyak orang.

Matematika bisa dipahami di seluruh dunia karena metematika adalah salah satu bahasa komunikasi. Ia lepas dari budaya manapun, tanpa keterikatan maupun mengikat budaya.

Matematika yang diajarkan di Indonesia identik dengan penghafalan rumus. Dalam hal ini siswa dipaksa menjadi kalkulator. Akibatnya adalah, siswa takut menghadapi soal cerita. Mengapa hal ini terjadi? Jawabanya karena  siswa tidak pernah diajari teknik modelling soal. Padahal, modelling adalah inti matematika. Jika soal cerita sudah berubah menjadi simbol-simbol matematis, semua menjadi mudah.

Masalah

Kurikulum Nasional memaksa sekolah menyelenggarakan pendidikan kalkulator. Alasannya karena  pembelajaran yang melibatkan modelling membutuhkan waktu yang lama.

Seni Mempertahankan Pendapat

Pembelajaran konstruktivistik yaitu pembelajaran yang merangsang kemampuan berpikir siswa untuk membentuk pemahaman terhadap suatu konsep. Caranya adalah dengan mengajarkan contoh benar dan contoh salah. Dengan simultan berupa contoh salah, siswa akan mengalami pertentangan di dalam dirinya maupun pertentangan dengan orang lain. pertentangan ini yang membuat siswa berpikir, berpendapat dan mempertahankan pendapatnya. Argumentasi membuat pikiran siswa berkembang. Pernahkah gurumu mengajarimu dengan cara seperti ini? Kebanyakan jawabannya tidak. Tradisi ini yang membuat siswa Indonesia pasif dan tidak kriti.

Memulai pembelajaran yang berbeda

Berikanlah soal-soal yang tidak dapat diselesaikan dengan cara biasa/cara yang diajarkan di buku. Soal semacam ini disebut soal non-rutin. Dalam hal mengerjakan soal yang tidak rutin ini Polya memberikan empat langkah yang dapat digunakan untuk menyelesaikannya, yaitu: understand the problem, plan the solving, apply the plan, and check back the solving.

Iklan

Tentang Irkham Ulil Albab

Adalah kesempatan terbesar bisa bertemu dengan para pendidik Matematika yang hebat. Keinginan terbesar saya bisa menjadi the Future Lecturer, Future Researcher, Future Designer and Future Leader on Mathematics Education
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kuliah, Problem solving dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s